Title
: Can you see me?
Categories : Fanfiction - OneShot
Genre : AU, Romance
Rating : G
Theme song : Element (Maaf dari Surga) - Kangen Band (Kembali Pulang)
Author : Rizuki Yamazaki (Zakiyah)
Categories : Fanfiction - OneShot
Genre : AU, Romance
Rating : G
Theme song : Element (Maaf dari Surga) - Kangen Band (Kembali Pulang)
Author : Rizuki Yamazaki (Zakiyah)
Cast :
1.
Yamada
Ryosuke (OOC)
2.
Shida
Mirai (OOC)
3.
Nakashima
Hitomi (OC)
4.
Chinen
Yuri (OOC)
5.
Erika
Sawajiri (OOC)
Synopsis/ Quote: Selama ini Shida sudah berusaha untuk menyelapkan perasaan itu. Selama Shida memuja Yamada dengan segenap hati, selama itu pula Yamada tak pernah melihatnya sama sekali. Yamada tak pernah menyadari kalau Shida itu tergila-gila padanya. Pada Yamada Ryosuke. Namun kenyataannya, semakin Shida berusaha menghilangkan perasaan itu, semakin ia tergila-gila pada Yamada. Ya, ia bisa gila karena Yamada.
Awal cerita
Yamada kembali mendatangi tempat
itu. Entah. Itu karena Yamada rindu pada sosok almarhum kekasihnya, Nakashima
Hitomi, atau memang ada alasan lain. Yamada meletakkan buket bunga di atas
makam Hitomi, lalu berdoa. Ia kembali menitikkan air mata kala bayang-bayang
wajah dan senyuman itu melintasi pikirannya. Kenangannya bersama Hitomi
langsung terputar ulang dalam rekaman memorinya.
“Rest in peace, Honey. I miss you...”
Yamada mengusap batu nisan dan meniupkan ‘cium jauh’ sebelum ia beranjak dan
meninggalkan tempat itu.
“Chii??!” Yamada kaget.
Ternyata sejak tadi Chinen sudah
berdiri di sana memperhatikan seorang Yamada yang terkenal jahil dan selalu
riang itu menangis.
“Iya. Kenapa Lo kaget?”
“Iya lah, Gue kaget. Ngapain Lo di
sini?” Yamada berjalan melewati Chinen. Chinen pun agak berlari menyusulnya.
“Gue dari tadi nyariin Lo. Anak-anak
udah kumpul buat latihan band. Tapi kalo vokalisnya gak ada mau gimana latihannya.
Gue udah nyangka Lo di sini makanya Gue kesini.” Chinen nyerocos udah kayak
anak perempuan.
“Iya Lo tenang aja. Abis ini juga
Gue langsung cabut kesana. Lo parkir dimana?”
“Sebelah sana..” Chinen menunjuk ke
ujung kanan parkiran.
“Oh. Iya udah. Ayo!” Yamada memakai
helm dan menstarter motor gedenya, lalu melesat menuju tempat latihan
disusul Chinen yang melaju di belakangnya.
Nasihat Chinen
Kimitachi Cafe, Stasiun Shibuya, 03.15 pm waktu Tokyo
Yamada menyeruput jus lemonnya sambil melihat ke arah jendela.
“Si Chinen mana sih? Katanya janjian jam tiga. Dasar
ngaret!” Yamada kesal sendiri.
O’ow... Ternyata, tanpa Yamada sadari, dari seberang tempat
duduknya Shida sudah memperhatikan dirinya dari tadi. Ya, cukup lama. Dan cukup
untuk melihat kekonyolan Yamada yang dari tadi ngomel-ngomel sendiri. Shida
tersenyum. Andai saja dia bisa menemani pengeran tampan itu minum jus. Shida
mulai berkhayal...
Tiit.. Tiit..
Shida membuka flip ponselnya. Email dari Erika.
“Shii, gomen. Aku telat. Kita langsung pergi aja yuk! Aku
tunggu depan pintu stasiun..”
Heuh, dasar Erii nyebelin! Bikin orang nunggu lama. Eh, tapi
tidak apa-apa. Shida kan jadi bisa lihat si makhluk tampan yang unyu-unyu
itu. Hi..hi..hi... Shida tertawa sendiri. Ia memasukkan ponselnya ke tas dan menyedot
habis lemon tea-nya, kemudian pergi menemui Erika.
“Hey, Bro. Gomen. Di luar rencana, tadi Okaasan
minta tolong Gue jaga toko dulu, jadi Gue telat kesini. He.. he.. he...”
akhirnya Chinen datang.
“Iya gak apa-apa. Gue juga baru kok disini.” Yamada menjawab
sambil membalik-balikkan halaman majalahnya.
“Baru sejam maksud Lo?” Chinen nyengir.
“Itu Lo tau!” Yamada ketus.
“Ha.. Ha.. Ha.. Galak banget sih Lo. Kayak cewek aja. Jangan
marah gitu dong, sayang!” goda Chinen sambil mencolek dagu Yamada.
“Apaan sih Lo!” Yamada menangkis tangan Chinen. “Gue tau Gue
ganteng. Tapi Lo jangan suka sama Gue dong!”
“Ha.. Ha.. Lagi marah juga narsisnya gak hilang-hilang..”
Chinen memanggil waitress dan memesan cappucino
kesukaannya.
“Jus lemon lagi, dasar lemonia.” Chinen mengambil gelas
Yamada dan meyeruput isinya.
“Biarin, lebih sehat. Daripada Lo minum kopi terus! Sini
balikin jusnya!”
“Iya, iya. Anak baik.” Chinen menggoda Yamada lagi.
“Ada apa Lo manggil Gue kesini?” Yamada mengalihkan
pembicaraan.
“Oh iya. Hampir lupa sama tujuan awal.” Chinen mengeluarkan
sesuatu dari saku jaketnya. “Nih, buat Lo.”
“Apaan nih? Lo beneran suka sama Gue? Pake ngasih surat
cinta segala!”
Chinen memukul kepala Yamada, “Baka! Surat ini bukan
dari Gue. Gue cowok normal, gak mungkin suka sama Lo. Ini dari Shida. Seminggu
lalu dia minta Gue nyampein surat ini ke Lo.”
“Shida? Apa isinya?”
“Eh, Lo jangan gila! Gini-gini juga Gue jaga amanat. Iya gue
gak baca isinya lah. Itu kan buat Lo..”
Yamada memandang surat bersampul hati merah jambu itu. Cantik.
Secantik pengirimnya.
“Yama, apa Lo masih gak bisa lupain Hitomi?”
Yamada mengangguk. Wajahnya berubah menjadi suram lagi.
“Hito itu segalanya buat Gue. Gue sayang banget sama dia. Gue gak bisa lupain
dia walaupun dia udah meninggal.”
“Gue ngerti. Tapi Gue pikir, Lo gak bisa terus-terusan kayak
gini. Lo harus move on. Hitomi disana gak bakal seneng lihat Lo dalam
kesedihan terus.”
Yamada masih terdiam.
“Demo...”
“Shida itu udah empat tahun nunggu Lo. Belum ditambah waktu
kita SMP dan SMA, berarti dia udah sepuluh tahun menanti jawaban dari Lo,”
“Hitomi itu cinta pertama Gue. Gue susah lupain dia.” Yamada
mengacak-acak rambutnya, yang sebenarnya modelnya sudah acak-acakan.
“Terus? Lo mau nunggu sampai Hitomi reinkarnasi, baru Lo
bisa buka hati lagi buat cewek. Buat Hitomi lagi. Jangan gila, Yama! Lo harus
berpikir realistis! Hidup Lo itu masih panjang. Masih banyak yang bisa Lo
lakuin. Gue gak nyuruh Lo lupain Hitomi seutuhnya, tapi seenggaknya Lo bisa
jalanin kehidupan baru Lo bareng Shida tanpa Lo harus melupakan Hitomi.”
Seorang waitress meletakkan cappucino di meja sambil
tersenyum manis. “Arigatou..” Chinen membalas senyumnya, lebih manis.
“Pikirin kata-kata Gue. Gue juga gak tega kalo harus ngeliat
Lo gini terus. Di samping Gue gak tega ngeliat Shida terus-terusan menanti
jawaban gak pasti dari Lo.” Chinen menyeruput cappucino-nya. Nikmat.
“Gue...” Yamada menggantung ucapannya. “Gue bingung,
Chii...”
Chinen berhenti meminum cairan coklat beraroma lezat itu dan
melotot memandang Yamada, matanya seakan bicara “Bingung kenapa?”
“Gue lihat Shida itu terlalu mirip sama Hitomi. Apalagi
matanya. Tiap Gue lihat Shida, Gue kebayang Hitomi. Gue gak mau kalo kesannya
Shida itu cuma jadi pelarian Gue.”
Chinen meletakkan kembali cangkirnya di meja. “Iya Lo jangan
mikir kayak gitu, dong!”
“Susah, Chii...”
“Udah, deh. Jangan lembek gitu! Pikirin aja dulu. Yang pasti
Gue cuma pengen yang terbaik buat sahabat Gue,” Chinen berdiri dan menepuk
pundak Yamada. “Gue cabut dulu. Harus jemput adek Gue dari les biola. Matta
ashita.”
Yamada tersenyum, “Ya, hati-hati..”
Chinen berlalu. “Eh, Chii..” teriak Yamada, kontan Chinen
membalikkan badannya. Chinen mengangkat alis, isyarat untuk kata “Ya?”
“Thanks udah ngingetin Gue..” Chinen tertawa dan
menghormat dengan merapatkan telunjuk dan jari tengahnya. “No problem..”
senyumannya, semakin manis.
Surat cinta Shida
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear Ryo-chan...
Shitsurei shimasu, aku lancang ngasih surat ini. Dan maaf
juga aku titip surat ini ke Chinen. Ryo-chan, apa ini yang pertama kali aku
mengirimkan surat padamu? Ah, sepertinya tidak. Kalau tidak salah, aku pernah
mengirimkannya waktu kita SMA dulu, dan kau tidak membalasnya. Tapi tidak
apa-apa J
Aku hanya ingin tahu kabarmu... Aku sebenarnya kecewa pada
diriku sendiri karena tidak dapat bertanya padamu secara langsung ... Aku harap
kau baik-baik saja.
Ah, sebenarnya, bukan hanya itu.
Ryo-chan... apa malam Tanabata nanti kau pergi dengan
seseorang? Bolehkah aku pergi denganmu? Aku janji hanya kali ini saja aku
meminta. Tapi, tidak apa-apa juga jika kali ini pun, kau keberatan.
Arigatou,
Shida
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yamada kembali melipat kertas merah jambu itu. Ia
membaringkan tubuhnya di kasur. Menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mata
sejenak. Ah, Hitomi! Wajah itu berkelebat lagi setiap ia menutup mata. Yamada
melihat kalung bertuliskan “RyoHito” yang dari tadi ia genggam. “Hitomi...”
tanpa sadar Yamada membisikkan nama itu lagi.
“Kurasakan semua pedihmu,
Saat kau panggil namaku, merintih dalam sepimu..
Namun sayangnya kau kini tak dapat lagi kusentuh..
Tak mungkin pula ku rengkuh, walau besarnya inginku..
Maafkan bila aku tiada lagi disisi, kita terpisah ruang dan
waktu...”
Awal kisah itu
=Tujuh tahun yang lalu=
Ini tahun pertama mereka di SMA.
Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakashima Hitomi, Erika Sawajiri, dan Shida Mirai
bersekolah di sekolah yang sama – lagi. Dulu mereka juga bersekolah di SMP yang
sama. Dan, ini tahun pertama juga Yamada dan Hitomi menjadi pasangan kekasih.
Mereka sangat saling menyayangi. Mereka berdua sangat serasi seperti sepasang
raja dan ratu. Sering membuat iri orang-orang yang melihatnya. Terutama, Shida
Mirai. Ya, gadis itu sudah memuja Yamada Ryosuke secara rahasia sejak keduanya
bertemu di SMP. Shida iri sekali pada Hitomi. Lebih tepatnya, cemburu!
Shida selalu berada di kelas yang
sama dengan Yamada, Chinen, dan Erika. Walaupun sistem kelasnya selalu dirolling,
namun mereka selalu satu kelas – untungnya Hitomi tidak berada di kelas yang
sama, jika tidak, itu akan membunuh Shida secara perlahan.
Shida duduk di kursi belakang, di
posisi itu, dia bisa melihat dengan jelas Yamada yang berada di ujung kiri
depan kelas. Seperti pagi itu. Shida tersenyum di balik bukunya yang sengaja ia
gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia lakukan agar tak ada yang tahu kalau dia
sedang memperhatikan Yamada. Ia tersenyum-senyum terus melihat wajah ganteng di
depannya. Hingga tanpa sengaja ia mengarahkan pandangan ke arah jendela. Itu
Hitomi! Dia sedang melihat Yamada. Oh, ternyata daritadi Yamada juga melihat
Hitomi. Mereka saling pandang, dengan tatapan cinta. Oh, tidak! Shida
mengkerut. Dengan cemberut, sekarang
Shida memfokuskan pandangannya pada buku yang ia genggam dengan erat –
lebih tepatnya, dengan marah, sampai sudut buku itu lecek kena genggaman kuat
Shida.
“Orang hebat ya? Bisa baca buku
sambil terbalik” tiba-tiba Chinen sudah berada di depan Shida, dia bersama
Erika.
“Ch.. Chii...?? Erii??” Shida gugup.
Hah! Benar. Dari tadi ia memegang bukunya terbalik. Aduh, baka! Shida
meringis sambil memukul-mukul kepala dengan tinjunya sendiri – pelan-pelan
tentunya. Chinen dan Erika tertawa melihat tingkahnya.
Memang, selama itu. Ya, selama
Yamada dan Hitomi bersama, Shida seakan seperti orang sakit yang sedang sekarat
dan sebentar lagi mau mati. Hah, berlebihan! Tapi memang itu yang dia rasakan. Kali
ini – lagi, Shida dibuat sesak nafas oleh pemandangan di depannya. Itu Yamada
dan Hitomi. Mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan olahraga. Mereka sedang
berbagi bekal makan siang. Cepat-cepat Shida menyembunyikan diri di balik
tembok dan berusaha mengatur laju nafasnya yang seakan membuat paru-parunya meladak.
Lebih parah lagi, hatinya terbakar. Kuso! Kenapa aku masih menyukainya,
batin Shida. Ia memukul-mukul kepalanya lagi, hal yang bisa ia lakukan jika
sedang ingin menyadarkan diri dari kebodohannya. Sadar Shida, Yamada itu sudah
punya pacar. Shida menggelang kencang. Hitomi itu cantik. Tepatnya, sangat
cantik. Rambutnya hitam tergerai sepunggung dihiasi pita biru muda di sisi
kanannya. Kulitnya putih mulus, badannya ideal dengan tingginya. Tapi yang
lebih menawan dari Hitomi itu matanya. Ya, mata yang agak besar untuk ukuran
orang Jepang. Pupilnya hitam pekat dan berkilat. Itulah kenapa ia bernama
Hitomi – gadis bermata indah.
Selama ini Shida sudah berusaha untuk menyelapkan perasaan
itu. Selama Shida memuja Yamada dengan segenap hati, selama itu pula Yamada tak
pernah melihatnya sama sekali. Yamada tak pernah menyadari kalau Shida itu
tergila-gila padanya. Pada Yamada Ryosuke. Namun kenyataannya, semakin Shida
berusaha menghilangkan perasaan itu, semakin ia tergila-gila pada Yamada. Ya,
ia bisa gila karena Yamada. Karena Yamada bersama Hitomi.
“Aarrrrgghhhhh...!!!” Tanpa sadar Shida berteriak
keras sekali, membuat orang-orang di sekitarnya mengalihkan perhatian ke
arahnya. Eh? Shida tersadar. “Sumimasen...” Shida membungkukkan badannya
dalam-dalam.
Dari sudut koridor, Chinen dan Erika memperhatikan Shida
dari tadi dan menertawakan kekonyolan gadis itu.
=Kesedihan mulai muncul=
Setelah lulus SMA, mereka (lagi-lagi) bersama di satu
universitas. Tapi sekarang dengan jurusan yang berbeda. Yamada dan Chinen memilih
seni musik, Shida dan Erika lebih tertarik pada desain, sedangkan Hitomi masuk
fakultas kedokteran seperti perintah ayahnya.
Di sinilah awal dari semua itu. Alasan kenapa Yamada jadi
lebih sering murung sekarang-sekarang ini. Di awal masuk perkuliahan semuanya
masih baik-baik saja. Tapi enam bulan setelah itu, Hitomi jadi sering pingsan
dan Yamada sering mendapaatinya mimisan. Ternyata kabar mengagetkan itu memang
harus terdengar. Hitomi divonis menderita kanker darah. Hal itu kontan membuat
Yamada sangat sedih. Tapi, orang itu memang hebat. Yamada tak pernah sekalipun
meninggalkan Hitomi. Ia bahkan memberikan perhatian lebih pada Hitomi. Yama...
(atau Shida lebih suka memanggilnya Ryo-chan), sikapnya itu, justru yang
membuat Shida semakin mengaguminya.
Tahun kedua, penyakit Hitomi semakin parah. Kankernya sudah
mencapai stadium akhir. Ia bahkan sampai tak pernah masuk kuliah lagi karena
lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit atau ruang terapi. Yamada
sangat terpukul melihat kondisi kekasihnya itu. Orang yang ia cintai, yang
selalu ceria, kini terbaring lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit. Wajahnya
bahkan sangat pucat. Yamada memegang tangan Hitomi dan mengelus rambutnya yang
tidak selebat dulu. Tetesan bening mengalir dari sudut mata Yamada.
“Honey.. Kamu denger aku, sayang? Bangun... Aku mau
penuhin janji aku buat ngajak kamu ke pantai, kita lihat sunset. Itu kan
yang kamu mau... “ Yamada mencium tangan Hitomi. Namun tentu saja tak ada
jawaban. Hening. Hanya suara mesin pendeteksi detak jantung yang terdengar. Yamada
mendekapkan tangan di pinggir ranjang dan membenamkan wajahnya. Sementara
tangannya tak lepas menggenggam tangan Hitomi.
Di luar kamar itu, Shida menonton adegan yang, sekali lagi,
membuat hatinya dihujani lahar panas. Shida menunduk. Chinen menepuk pundak
Shida dan berkata, “Daijoubu desu ka?” Shida mengangguk. Chinen ini,
kenapa bertanya, tentu saja Shida apa-apa, bukan tidak apa-apa. Erika merangkul
Shida dan menyerahkan bahunya untuk Shida bersandar.
Akhir penantian
Ini berarti sudah dua tahun lebih Hitomi pergi. Dan dua
tahun lebih pula Yamada terpuruk dalam keadaan itu, dalam kesedihannya. Sebenarnya,
ia masih bisa menjalani kehidupannya secara normal. Hanya saja ia tak bisa,
lebih tepatnya, belum bisa membuka hatinya dan mempersilahkan gadis lain
mengisi ruang kosong di hatinya. Ia tahu ini salah. Tapi, cintanya pada Hitomi
sudah menaklukkan logikanya.
Yamada menatap surat merah jambu itu lagi. Shida...
bisiknya. Kenapa kau sesetia itu menungguku? Yamada teringat kata-kata terakhir
Hitomi waktu itu...
“tetaplah jalani mimpi walau tak bersamaku... bahagiamu
damaikan jiwaku....”
Ah, kenapa aku ini bodoh sekali! Umpatnya dalam hati
=Bertemu Hitomi=
“Hitomi? Ya, itu benar kau Hitomi!” Yamada melihat sosok di
depannya. Gadis bergaun putih dengan wajah putih bersih dan rambut hitam
panjang yang tergerai, tentu saja dengan pita biru muda di sisi kanannya. Anggun.
Gadis itu mengangguk dan melambaikan tangannya, meminta Yamada mendekat. Hitomi
mendekapnya.
“Ryo... Sudah lama aku pergi.. Aku sedih melihatmu. Kenapa
kau bersikap seperti itu padanya? Terlihat sekali, kan? Ia sangat mencintaimu.
Bahagiakanlah dia. Aku akan sangat senang,” Hitomi kemudian memegang pundak
Yamada dan mencium keningnya. Yamada hanya bergeming.
“Hito...” bisiknya, namun gadis itu segera meghilang dari
hadapannya. “Hitomi.. Tunggu! Hitomiii....!!” Ah, Yamada terbangun. Tadi itu,
hanya mimpi? Hitomi, benarkah... yang kau katakan itu..?
=beberapa bulan kemudian=
Yamada menjalankan motor gedenya meliuk-liuk mengikuti
jalan. Shida menggenggam erat jaket Yamada. Dengan mata yang tertutup seperti
itu ia sangat takut, apalagi Yamada ngebut sekali.
“Ryo-chan... apa tidak bisa kau jalan pelan-pelan? Aku
sangat takut!” Hitomi setengah berteriak karena suara angin dan suara berisik
knalpot motor Yamada membuatnya tidak bisa bicara pelan.
“Tidak bisa. Kita harus cepat. Aku sedang mengejar sesuatu.
Berpegangan saja yang erat,” Yamada terus menarik gas motornya. Ia berhenti di
suatu tempat. Melepaskan helmnya dan berkata “Baguslah, masih belum terlambat,”
Yamada tersenyum puas.
“Eh, sudah sampai, ya?”
“Iya, sudah. Kau boleh turun,”
“Buka penutup mataku, Ryo-chan. Aku tidak bisa melihat
apa-apa,”
“Jangan dulu, ayo ikut aku!” Yamada menarik tangan Shida dan
membawanya ke tengah pantai. Yamada membuka penutup mata Shida. Ia memicingkan
mata. Ah, di pantai? Sunset? Indah sekali.... Shida melirik Yamada, “Ini yang
tadi kau bilang sedang kau kejar?”
“Ya,” Yamada menggangguk. “Untung masih belum terlambat.
Indah, kan?” Yamada merangkul Shida.
“Arigatou, Ryo-chan..” Shida mengembangkan senyumnya.
“Jangan berterimakasih dulu. Kejutannya masih belum
selesai,”
“Eh?” Shida dibuat penasaran lagi.
“Tutup mata,”
“Tutup mata lagi?”
“Sebentar saja. Ayo!”
Shida menurut.
“Sekarang buka”
Hah? Apa? Itu.. ci.. cincin? Yamada tersenyum. Tentu saja,
manis sekali bahkan sangat manis. “Will you marry me, Shida..”
Oh my God! Apa Shida sedang bermimpi? Apa yang di hadapannya
benar-benar Yamada Ryosuke alias Ryo-chan-nya? Apa Shida tidak salah dengar?
Ya, sejak malam Tanabata itu. Yamada berkencan dengan Shida.
Malam itu Yamada mengatakan kalau ia ingin memuka hatinya untuk Shida. Dan...
sekarang Yamada megajaknya menikah....
“Hei! Daijoubu?” Yamada menyadarkan Shida dari
imajinasinya.
“Ha, hai.. daijoubu...”
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
Shida menggigit bibirnya, berusaha menatap sepasang mata
indah yang selalu membuatnya meleleh. “Kenapa kau tanya? Dasar baka,”
‘Hah? Apa itu berarti iya?”
“Kenapa tanya lagi?”
“Shidaaa..... Arigatou....!” Yamada menarik Shida ke
pelukannya. Ia memeluk Shida erat. Oh Tuhan! Itu adalah hal yang dinantikan
Shida sejak lama, tepatnya, sejak lama sekali.
“Watashi wa anata wo aishiteru...,” bisik Shida.
“Boku mo..” Yamada mengecup kening Shida.
Angin pantai berhembus mengiringi mentari yang terbenam di
ufuk barat. Memantulkan cahayanya di permukaan air laut. Menghiasi hati dua
insan yang sedang dipeluk perasaan cinta...
“Kekasih yang dulu hilang, kini dia tlah kembali pulang..
Akan kubawa dia terbang.. damai bersama bintang...”
=Selesai=
Glosarium
Gomen = Maaf
Okaasan = Mama
Baka = Bodoh
Demo = Tapi
Arigatou = Terima kasih
Matta ashita = sampai besok
Shitsurei shimasu = maafkan kelancangan saya
Kuso = sialan
Sumimasen = maaf
Daijoubu desu ka = apa kau baik-baik saja?
Daijoubu = tidak apa-apa
Watashi wa anata wo aishiteru = aku mencintaimu
Boku mo = aku juga
Kata dan Pesan dari Penulis
Sebelumnya, terimakasih untuk
teman-teman dan panitia lomba FanFic yang udah bersedia baca cerita saya. Bahasanya
sengaja tidak terlalu formal (agak gaul) agar lebih mudah dipahami dan lebih
santai. Gomen, masih banyak kekurangan. Semoga terhibur. Dan jangan lupa komen
iaa ^_^
NB: karena fanfic ini sudah diikutsertakan dalam lomba di Hey! Say! JUMP LOUnG3, maka fanfic ini adalah copyright Penulis dan panitia lomba... Terimakasih...
sory nanya ini kanaeru yang di showtime?
BalasHapusmaaf, mksudnya showtime apa?
Hapus